Minuman Baik dari Tanaman Kumis Kucing & Penurun Gula Darah

Minuman Baik dari Tanaman Kumis Kucing & Penurun Gula Darah

Minuman Baik dari Tanaman Kumis Kucing & Penurun Gula Darah – Orthosiphon aristatus atau dikenal dengan nama kumis kucing termasuk  tanaman dari famili Lamiaceae/Labiatae. Tanaman ini merupakan salah satu tanaman obat asli Indonesia yang mempunyai manfaat dan kegunaan yang cukup banyak dalam menanggulangi berbagai penyakit.

Kabar gembira bagi orang-orang dengan diabetes! Baru-baru ini, ada temuan bernama Glucodiab Drink. Minuman ini diciptakan oleh Prof. Dr. C Hanny Wijaya, Guru Besar IPB University dari Fakultas Teknologi Pertanian (FTP). Minuman ini dapat membantu orang-orang dengan diabetes atau diabetesi untuk menurunkan kadar gula darah dalam tubuh.

Menariknya, komposisi terbesar Glucodiab Drink berasal dari tumbuhan kumis kucing! Temuan ini dikupas tuntas dalam acara daring bertajuk “The Story of Glucodiab Drink” yang dihelat oleh Unihealth a Soho Global Health Company, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), dan IPB University.

1. Mempunyai kandungan antioksidan yang tinggi
Glucodiab Drink, Minuman Penurun Gula Darah dari Tumbuhan Kumis Kucing

Berbahan dasar rempah-rempah dan herbal, Glucodiab Drink memiliki kandungan antioksidan yang tinggi, sekitar 600-700 ppm dengan aktivitas antihiperglikemik 65,83 persen. Melansir situs resmi IPB University, ekstrak tumbuhan kumis kucing mempunyai khasiat pada dosis tertentu.

Selain itu, juga dapat menurunkan kadar glukosa darah, menurunkan ukuran batu ginjal, dan meningkatkan kolesterol baik atau high-density lipoprotein (HDL) pada tikus percobaan.

2. Ini adalah upaya untuk memanfaatkan potensi keanekaragaman hayati Indonesia
Glucodiab Drink, Minuman Penurun Gula Darah dari Tumbuhan Kumis Kucing

Prof. Dr. Bambang P Soemantri Brodjonegoro, PhD, Menteri Riset dan Teknologi sekaligus Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/KaBRIN) turut berkomentar. Menurutnya, ekosistem riset di Indonesia masih perlu ditingkatkan untuk menciptakan inovasi.

“Banyak tahapan yang harus dilalui. Langkah kerja sama produk Glucodiab Drink ini menjadi contoh bahwa hilirisasi produk penelitian adalah komersialisasi. Semoga sinergi yang baik ini terus menghasilkan produk yang bermanfaat bagi masyarakat,” ucapnya dalam sesi sambutan.

Di sisi lain, BPOM mengapresiasi PT. Soho dan IPB University dalam mengembangkan produk jamu Indonesia. Ini diutarakan oleh Penny K. Lukito, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Indonesia (BPOM).

“Potensi obat Indonesia yang sudah mendunia, terutama dengan keanekaragaman hayati yang sangat potensial. Pemanfaatan potensi tersebut perlu diinisiasi oleh BPOM untuk menghasilkan produk yang berkualitas dan aman. Selama pandemi COVID-19, temuan ini menjadi upaya preventif untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Sehingga, dalam realisasinya, diperlukan sinergi yang intensif untuk hilirisasi produk,” Penny menjelaskan.

3. Produk jamu memiliki tantangan tersendiri, apa saja?
Glucodiab Drink, Minuman Penurun Gula Darah dari Tumbuhan Kumis Kucing

Sebagai penemu formula Glucodiab Drink, Prof. Dr. C Hanny Wijaya mengucapkan terima kasih atas setiap apresiasi yang diberikan kepadanya. Ia berharap jamu Indonesia bisa menekuni pengobatan tradisional Tiongkok (TCM) dan Ayuverda (pengobatan alternatif India) sebagai obat tradisional.

Apa permasalahan utama jamu Indonesia? Menurutnya, yang menjadi tantangan adalah rasa pahit atau khas dari bahan alami yang kurang disukai. Masalah lainnya adalah kurangnya bukti ilmiah pendukung yang disertai dengan standar mutu dan stabilitas yang kurang terjaga.

Kumis kucing merupakan tanaman obat berupa tumbuhan berbatang basah yang tegak. Tanaman ini dikenal dengan berbagai istilah seperti: kidney tea plants/java tea (Inggris), giri-giri marah (Sumatera), remujung (Jawa Tengah dan Jawa Timur) dan songot koceng (Madura). Tanaman Kumis kucing berasal dari wilayah Afrika tropis, kemudian menyebar ke wilayah Asia dan Australia.

Kumis kucing termasuk terna tegak, pada bagian bawah berakar di bagian buku-bukunya dan tingginya mencapai 2 meter. Batang bersegi empat agak beralur berbulu pendek atau gundul. Helai daun berbentuk bundar atau lonjong, lanset, bundar telur atau belah ketupat yang dimulai dari pangkalnya, ukuran daun panjang 1 – 10 cm dan lebarnya 7.5mm – 1.5 cm.

urat daun sepanjang pinggir berbulu tipis atau gundul, dimana kedua permukaan berbintik-bintik karena adanya kelenjar yang jumlahnya sangat banyak, panjang tangkai daun 7 – 29 cm.