Fakta Korban Jiwa Akibat Miras Oplosan Terus Berjatuhan

Fakta Korban Jiwa Akibat Miras Oplosan Terus Berjatuhan

Fakta Korban Jiwa Akibat Miras Oplosan Terus Berjatuhan – Maraknya minuman keras oplosan dikonsumsi masyarakat telah semakin meresahkan karena telah banyak merenggut korban. Rasanya belum lama kita mendengar kabar menyedihkan  beberapa remaja meninggal akibat menenggak miras oplosan ini. Peraturan untuk menaikkan pajak, melarang legalitas alkohol (biasanya disebut “Arak”, “Ciu”, dll) di toko membuat permintaan minuman dengan harga murah tidak dapat dipenuhi.

Dapat dilihat dari Pusat Studi Kebijakan Indonesia (PSKI) bahwa jumlah orang meninggal antara 2013 dan 2016 karena keracunan Miras ilegal meningkat 226%. Pada 2018 lebih dari 500 orang dilaporkan meninggal setelah minum Miras yang mengandung metanol dalam jumlah yang besar. Namun dalam kenyataannya jumlahnya akan lebih tinggi daripada yang dilaporkan karena kesalahan diagnosa atau disembunyikan oleh keluarga mereka karena beberapa alasan dan ini masih terus terjadi.

Peredaran minuman keras atau miras oplosan menjadi perhatian utama Poker Deposit Pulsa Kepolisian RI (Polri) saat ini. Sebab, baru-baru ini ada 51 orang di Jawa Barat dan 31 warga DKI Jakarta menjadi korban jiwa akibat miras. Jumlah tersebut belum termasuk puluhan orang lainnya yang harus dilarikan ke rumah sakit untuk menjalani perawatan intensif akibat kasus yang sama.

1. Miras menimbulkan keresahan masyarakat
Korban Jiwa Akibat Miras Oplosan Terus Bertambah, Ini Upaya Polri saat Ramadan

Syafruddin mengutarakan, keresahan tidak hanya dirasakan korban. Masyarakat di berbagai daerah juga terganggu dengan miras oplosan yang didapat dengan harga murah.

“Walau ada publik yang tidak merasakan (langsung), tapi mereka sangat terganggu. Saya yakin kasus ini terjadi di seluruh Indonesia, tidak hanya di Polda Metro Jaya, Jawa Barat, dan Kalimantan Selatan,” kata dia.

“Kemudian fenomena ini terjadi di tengah masyarakat saat Indonesia yang sedang prihatin menghadapi banyak masalah,” dia melanjutkan.

2. Polri akan memberantas miras oplosan mulai dari produsen hingga pengedar
Korban Jiwa Akibat Miras Oplosan Terus Bertambah, Ini Upaya Polri saat Ramadan

Polisi berpangkat bintang tiga ini memerintahkan hingga jajaran Polres, agar mengusut tuntas kasus miras oplosan mulai dari pengedar, distributor, hingga pembuatnya.

“Oleh karenanya saya perintahakan kepada jajaran Polda untuk menyelesaikannya secara tuntas. Saya perintahkan untuk membuat kasus ini berhenti, artinya mengungkap hingga pengedar dan distribusinya,” kata Syafruddin.

3. Polri bekerja sama dengan penegak hukum lain dalam memberantas peredaran miras
Korban Jiwa Akibat Miras Oplosan Terus Bertambah, Ini Upaya Polri saat Ramadan

Polri akan merangkul lembaga negara lainnya dalam memberantas miras, seperti Kejaksaan dan Pengadilan agar memberikan efek jera kepada pelaku.

“Kepada pelaku untuk diberikan hukuman yang maksimal. Kita akan koordinasi dengan Kejaksaan dan Pengadilan. Berikan putusan maksimal. Gak ada toleransi. Karena ini kejahatan lama, tapi metode baru,” kata dia.

Guna langkah pencegahan, polisi akan meminta kementerian terkait supaya masalah miras oplosan dibahas secara nasional. Sehingga kebijakan yang dihasilkan adalah suatu aturan yang membenahi sistem peredaran miras dan alkohol di publik.

4. Ramadan tanpa minuman keras
Korban Jiwa Akibat Miras Oplosan Terus Bertambah, Ini Upaya Polri saat Ramadan

Syafruddin mengatakan Polri menargetkan kasus miras oplosan tidak terjadi pada Ramadan tahun ini.

“Kasus ini tidak hanya di tiga Polda saja, harus diratakan, target bulan ini selesai. Bulan depan, ketika Ramadan, gak ada lagi miras,” kata dia.

Baru-baru ini delapan orang meninggal dunia akibat miras oplosan di Jakarta Timur dan Jakarta Selatan. Polda Metro Jaya telah menangkap tujuh tersangka yang mengedarkan miras oplosan di Ibu Kota. Mereka tersebar di Jakarta Selatan, Bekasi, Depok, dan Jakarta Timur. Polisi masih mencari dua tersangka lain yang masih buron.

Remaja minum minuman keras  biasanya untuk coba-coba dan rasa ingin tahu atau terbawa oleh teman  atau ingin dianggap dewasa. Sedang untuk usia pertengahan minum minuman keras biasanya untuk mengatasi stres atau kesulitan hidup  yang dihadapi. Selain itu faktor kultur  dan budaya juga ikut berperan seperti kebiasaan   minum minuman keras  atau ada orang tua dan  keluarga yang juga minum minuman keras.