Sederet Miras Dari Berbagai Daerah yang Ada Di Indonesia

Sederet Miras Dari Berbagai Daerah yang Ada Di Indonesia

Sederet Miras Dari Berbagai Daerah yang Ada Di Indonesia – Minuman keras (disingkat miras), minuman suling, atau spirit adalah minuman beralkohol yang mengandung etanol yang dihasilkan dari penyulingan (yaitu, berkonsentrasi lewat distilasi) etanol diproduksi dengan cara fermentasi biji-bijian, buah, atau sayuran.

Di Indonesia, definisi “minuman keras” dan “minuman beralkohol” tercampur aduk dan cenderung dianggap barang yang sama sehingga juga meliputi minuman fermentasi yang tidak disuling seperti bir, tuak, anggur, dan cider. Setiap daerah di Indonesia menyimpan banyak hal yang menjadi daya tarik tersendiri, baik dari segi kebudayaan, makanan, maupun minuman.

Perlu diketahui jika kebanyakan minuman yang ada di tiap – tiap daerah adalah minuman keras yang digunakan apk idn poker sebagai penghangat badan. Untuk menambah pengetahuan anda mengenai Indonesia, disini kami berikan informasi 10 jenis minuman keras dari berbagai daerah di Indonesia.

1. Tuak.

Tuak adalah minuman keras yang sangat populer bagi suku Batak di Sumatera Utara. Masyarakat Batak percaya jika tuak termasuk ke dalam minuman sehat karena mampu mampu mengobati sariawan, menurunkan demam, mengurangi stress, memberikan kehangatan pada tubuh, mengobati diabetes, mengatasi sembelit, melancarkan sistem pencernaan, melancarkan ASI, serta menjaga kesehatan tulang. Berdasarkan bahan pembuatannya, tuak terbagi menjadi dua jenis, yaitu sebagai berikut :

  • Tuak nira.

    Tuak nira dihasilkan dari menyadap nira dari tongkol bunga pohon enau. Caranya, pohon enau dibiarkan berbuah, lalu buahnya dipotong dan air manis yang menitik dari tandan yang dipotong akan dikumpulkan dalam sebuah wadah yang sering disebut buluh bambu. Selanjutnya, air nira dibiarkan selama beberapa hari agar kandungan gula di dalamnya berubah menjadi alkohol. Tuak nira berkualitas biasanya mempunyai kandungan alkohol sebesar 4 persen. Lebih dari jumlah tersebut, tuak nira akan memiliki rasa masam yang kurang sedap.

  • Tuak Beras.

    Tuak beras dibuat dari beras pulut (beras ketan) yang direndam dalam sebuah tempayan bernama ‘tajau’.  Proses pembuatan tuak beras biasanya menghabiskan waktu sekitar 2 minggu sebelum dapat diminum. Supaya terasa lebih manis, terkadang dalam proses pembuatannya, tuak beras ditambahkan gula pasir. Jenis tuak ini sering dikonsumsi masyarakat Iban di kalimantan pada acara perayaan tertentu, seperti gawai hantu, gawai kenyalang, gawai dayak, dan sebagainya. Bukan hanya masyarakan Iban saja, tetapi juga masyarakat Ulu dan Bidayuh.

2. Sopi.

Sopi adalah minuman keras tradisional Maluku dan beberapa daerah di Indonesia timur, seperti Papua dan Flores. Sopi diambil dari bahasa Belanda, ‘zoopje’ yang artinya alkohol cair. Proses pembuatan sopi terbilang cukup lama. Caranya adalah dengan membubuhkan bubuk akar husor yang sudah ditumbuk dengan air sedapan pohon enau (disebut sageru oleh masyarakat setempat).

Langkah ini dilakukan supaya air sageru tidak berubah menjadi gula merah saat dimasak, lalu dimasak dalam tungku kedap udara. Uapnya akan berubah menjadi zat cair yang dialirkan melalui batang bambu serta ditampung dalam sebuah botol atau wadah lainnya. Biasanya, sopi dikemas dalam botol bekas air mineral atau botol kaca. Dalam tradisi masyarakat Maluku, sopi dijadikan sebagai lambang kebersamaan atau untuk menyelesaikan sebuah masalah yang terjadi dalam satu marga, satu keluarga, atau antar desa.

3. Lapen.

Lapen adalah minuman keras selanjutnya yang berasal dari Yogyakarta. Lapen mempunyai kadar alkohol sampai 80%. Dengan tingginya kadar alkohol yang terdapat di dalam lapen membuat pemerintah setempat melarang perjualbelian lapen. Namun, saat ini masih banyak pedagang minuman yang menjualnya secara ilegal. Supaya terasa lebih nikmat, biasanya lapen dicampurkan dengan cairan perasa buah – buahan.

4. Ballo.

Ballo adalah minuman keras masyarakat Sulawesi Selatan, terbuat dari getah pohon lontar yang biasanya disajikan dalam cangkir bambu. Ballo terdiri atas dua jenis yaitu kacci ballo dan penyamakan ballo. Terdapat perbedaan antara kedua jenis minuman ini, dimana penyamakan ballo mempunyai rasa manis dan halus dengan kadar alkohol sekitar 10 persen. Sementara kacci ballo sifatnya tajam, kuat, dan asam. Ballo kerap dikonsumsi pada acara ritual keagamaan atau pertemuan sosial.

5. Arak Bali.

Arak Bali adalah minuman keras yang biasanya dinikmati pada upacara adat dengan ritual tertentu untuk menambah keakraban. Kadar alkohol yang terdapat di dalam arak Bali adalah sekitar 30 sampai 50 persen. Arak Bali terbuat dari fermentasi sari kelapa dan buah – buahan, biasanya agar terasa lebih nikmat arak Bali diminum bersama campuran jus maupun sirup.

6. Swansrai.

Swansrai adalah minuman khas orang Papua yang dibuat dari hasil fermentasi air pohon kelapa tua. Swansrai termasuk ke dalam jenis minuman keras dengan tinggi alkohol yang cukup tinggi, yaitu sekitar 20 sampai 30 persen. Bagi masyarakat Biak, Swansrai biasanya dikonsumsi pada acara – acara pertemuan adat. Tujuannya adalah untuk menambah keakraban antara anggota keluarga.

7. Cap Tikus.

Apakah anda pernah mendengar minuman cap tikus? Minuman ini adalah minuman tradisional masyarakat Minahasa. Cap tikus mempunyai kandungan alkohol sekitar 40 persen, sehingga termasuk ke dalam jenis minuman keras. Cap tikus terbuat dari air nira atau saguer yang disuling, mirip seperti minuman sopi asal Flores.

8. Kecut.

Kecut adalah minuman keras asal Banten yang kini mulai meresahkan masyarakat setempat. Pasalnya, semakin banyak para remaja ditemukan mengonsumsi minuman oplosan ini. Hal tersebut mungkin disebabkan karena kecut banyak diperjual belikan dengan harga relative murah, yaitu sekitar 20 ribu sampai 35 ribu.

9. Ciu.

Ciu adalah minuman keras asal daerah kecil di Desa Bekonang, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Ciu mempunyai aroma minuman anggur yang lebih tajam dan sangat menusuk hidung. Menurut sejarahnya, Ciu sudah ada sejak abad ke 17 dan dikenal sebagai minuman tradisional pada masa penjajahan Belanda. Ciu mempunyai perbedaan dari miras lainnya, dimana cairan etanol murni mempunyai kadar alkohol sekitar 90 persen dan bio etanol sekitar 99.5 persen.

Untuk menambah rasa nikmat pada minuman, menurut kabar ciu dicampurkan dengan cindil (anak tikus yang masih merah dan belum membuka mata). Proses pembuatannya adalah dengan merendam cindil ke dalam cairan etanol. Meskipun proses pembuatannya cukup ekstrim, namun rasa serta harganya yang relative murah membuat ciu punya tempat tersendiri di hati penikmatnya.

10. Congyang.

Congyang adalah minuman keras Semarang yang pertama kali diciptakan oleh seorang warga Tionghoa bernama Koh Tiong. Bagi pria dewasa, mengonsumsi 1 cangkir kecil congyang mampu menambah keperkasaan. Apabila dikonsumsi secara teratur sesuai aturan berlaku, dapat melancarkan peredaran darah serta membuat otot sekaligus saraf menjadi rileks. Namun bila dikonsumsi secara berlebih malah dapat memberi efek memabukkan dan hilang ingatan.

Melihat manfaat serta efek memabukkan yang dimiliki congyang membuat terjadi pro kontra ditengah masyarakat mengenai kehadiran minuman ini. Meskipun begitu, banyak wisatawan yang memilih congyang sebagai oleh – oleh khas ketika berkunjung ke kota Semarang. Congyang dapat dibeli pada warung – warung minuman yang sudah mendapatkan ijin untuk memperjual belikan produk ini dengan harga eceran mulai dari 35 ribu sampai 40 ribu.

“Minuman keras” merujuk minuman suling yang tidak mengandung tambahan gula dan memiliki setidaknya 20% alkohol berdasarkan volume  (ABV). Minuman keras yang populer antara lain arak, brendi,  brendi buah (juga dikenal sebagai eau-de-vie atau schnapps), gin,  rum, tequila, vodka, dan wiski.

Dalam perundang-undangan di Indonesia, minuman beralkohol dengan kadar di atas 20 persen masuk ke dalam minuman beralkohol golongan C. Namun tidak disebutkan secara gamblang bahwa minuman beralkohol golongan C adalah miras.