Sanggalea Hingga Arak Dalam Jejak Tionghoa di Makassar

Sanggalea Hingga Arak Dalam Jejak Tionghoa di Makassar

Sanggalea Hingga Arak Dalam Jejak Tionghoa di Makassar – Makassar adalah salah satu dari empat pusat pertumbuhan utama di Indonesia, bersama dengan Medan, Jakarta, dan Surabaya. Dengan memiliki wilayah seluas 175,77 km² dan jumlah penduduk lebih dari 1,5 juta jiwa, kota ini berada di urutan kelima kota terbesar di Indonesia setelah Jakarta, Surabaya, Bandung  dan Medan.

Secara demografis, kota ini tergolong tipe multi etnik atau multi kultur dengan beragam suku bangsa yang menetap di dalamnya, di antaranya yang signifikan jumlahnya adalah Suku Makassar, Bugis, Toraja, Mandar, Buton, Jawa, dan Tionghoa.

Masyarakat Tionghoa di Makassar merayakan Imlek dengan sukacita, meski di tengah pandemik. Di ibu kota Sulawesi Selatan itu, Imlek bukan perayaan baru. Hari besar tahunan itu sudah diperingati sejak lampau, seiring masuknya masyarakat Tionghoa ke kota pada ratusan tahun lalu.

Yerri Irawan merekam jejak awal keberadaan masyarakat Tionghoa di Club388 Indonesia Makassar melalui bukunya, Sejarah Masyarakat Tionghoa Makassar. Dia mengumpulkan hasil penelitian seputar masyarakat Tionghoa pada masa VOC, abad ke-19, hingga awal kemerdekaan Republik Indonesia.

1. Pedagang datang bertahap ke Makassar sejak abad ke-13
Keramaian pasar pecinan(Bacan) makassar menjelang Imlek 2563 | Indonesië

Tempat bernama Makassar atau Mangkasar dengan transkripsi Meng-jia-shi dalam sumber Tionghoa, sudah tercatat dalam suatu monografi kota Kanton pada masa Dade. Tepatnya di era dinasti Yuan, antara 1297 hingga 1301.

Nama Makassar muncul dalam sebuah lampiran berjudul Barang-barang yang dibawa oleh kapal-kapal asing. Namun tidak ada keterangan tentang kehadiran orang Tionghoa pertama kali di Sulawesi Selatan.

Di pedalaman Sulsel ditemukan keramik-keramik Tionghoa tertua, yang umumnya berasal dari Dinasti Song. Namun itu bukan bukti yang cukup untuk mengatakan orang Tionghoa datang ke Sulsel sebelum abad ke-16. Keramik itu kemungkinan dibawa para pedagang asing yang sedang menuju Maluku atau melalui perdagangan antara Makassar dan Filipina.

2. Sebutan Sanggalea berasal dari abad ke-16

Wisata Makassar - Belajar Sejarah dan Budaya di Klenteng Xian Ma, Lihat  Desain yang Oriental - Tribun Travel

Penduduk Sulsel menyebut orang-rang Tionghoa dengan panggilan Sanggalea. Sebutan itu ada kaitannya dengan nama Sangley, yang digunakan orang-orang di Filipina sejak abad ke-16.

Tidak jelas etimologi kata tersebut. Namun, sebuah naskah Sino Filipina abad ke-16 pernah mencatatnya. Digambarkan, sepasang orang Tionghoa menggunakan nama Sangley, dilengkapi dua buah huruf Tionghoa, Changlai, yang berarti sering datang.

Terminologi Sanggalea juga digunakan dalam kaitannya dengan sejenis tembakau yang diimpor dari Fujian dan disebut Tambako Sanggaleya.

3. Para pedagang pertama datang dari provinsi Fujian
Minim Sosialisasi, Pedagang Pasar di Makassar Takut Divaksin Covid-19 –  FAJAR

Soehongjie, dalam artikelnya yang dimuat koran Pemberita Makassar pada 15 Agustus 1932 menuliskan, para pedagang Tionghoa pertama yang tiba di Makassar datang dari provinsi Fujian. Saat itu, Pelabuhan Makassar belum ramai dan belum ada pedagang dari Eropa.

Pada waktu itu orang Tionghoa tiba dengan kapal (oewangkang) yang datang satu kali setahun. Kapal itu membawa sekitar 200 penumpang orang Hokkian. Namun saat berangkat pulang ke Tiongkok, sebagian besar penumpang tidak ikut.

4. Orang Tionghoa menjual arak pada era Kerajaan Gowa-Tallo
Bilah Bambu 'Penghasil' Minuman Keras China

Pada 16 Juli 1615, George Cockayne yang mengepalai loji Inggris di Makassar mengirim surat kepada Sir John Smith, Gubernur East India Company (EIC). Di masa Kerajaan Gowa-Tallo, Cockayne melaporkan bahwa dia menjual beras pada seorang Tionghoa di Makassar yang memiliki penyulingan arak.

Penduduk Makassar saat itu telah menjadi Muslim, sehingga diperkirakan produksi arak menyasar konsumen orang Eropa dan Tionghoa.

Pada 1619, sebuah peta Tionghoa memperlihatkan jaringan laut antara Tiongkok serta Asia Tenggara. Diperlihatkan Pelabuhan Makassar yang ditulis Bang-jia-shi.

5. Perkampungan Tionghoa sudah tercatat sejak 1667
Menelusuri Jejak Tionghoa di Makassar:  Sebutan Sanggalea Hingga Arak

Peta tertua Kota Makassar kini tersimpan di Perpustakaan Nasional Austria. Peta itu berasal dari sebuah atlas rahasia milik VOC bertanggal sekitar 1670, yang dilukis sekitar 1638-an.

Namun peta ini tidak menunjukkan perkampungan Melayu atau Tionghoa. Hanya ada perkampungan orang Portugis dan orang Gujarat serta loji milik orang Denmark dan Inggris. Demikian juga pada lukisan panorama Makassar yang dibuat Fred Woldemar pada 1660 dan tersimpan di Societe de geographie di Paris, Prancis.

Perkampungan Tionghoa baru tercatat sejak ibu kota Makassar terletak di Somba Opu. Keterangan ini dibenarkan pengarang Sj’air Perang Makassar, yang mencatat bahwa saat Belanda menyerang kota itu pada 1667, mereka menembakkan meriam ke arah penyerang dari Kampung Tjina.

Di Kampung Tjina meriam jang tebal

serta ditembakkan kenalah kapal

terus-menurus tampal-menampal

sangatlah duka hati Admiral.