Inilah Dampak Alkohol Dalam Tubuh yang Harus Kamu Ketahui

Inilah Dampak Alkohol Dalam Tubuh yang Harus Kamu Ketahui

Inilah Dampak Alkohol Dalam Tubuh yang Harus Kamu Ketahui – Minuman beralkohol atau kadang disingkat minol adalah minuman yang mengandung etanol. Etanol adalah bahan psikoaktif dan konsumsinya menyebabkan penurunan kesadaran. Di berbagai negara, penjualan minuman beralkohol dibatasi ke sejumlah kalangan saja, umumnya orang-orang yang telah melewati batas usia tertentu.

Bila dikonsumsi berlebihan, minuman beralkohol dapat menimbulkan efek samping ganggguan mental organik (GMO), yaitu gangguan dalam fungsi berpikir, merasakan, dan berprilaku. Timbulnya GMO itu disebabkan reaksi langsung alkohol pada sel-sel saraf pusat. Karena sifat adiktif alkohol itu, orang yang meminumnya lama-kelamaan tanpa sadar akan menambah takaran/dosis sampai pada dosis keracunan atau mabuk.

Belakangan, Rancangan Undang-Undang Larangan Minuman Beralkohol (RUU Minol) ramai dibicarakan karena mulai dibahas di Badan Legislasi (Baleg) DPR. RUU Poker Deposit Pulsa ini tentu saja menimbulkan pro dan kontra karena penggunaan alkohol memiliki cakupan yang luas. Lantas, dari segi kesehatan, apa saja, sih, dampak alkohol dalam tubuh?

1. Alkohol
Ramai RUU Minol, Apa Saja, sih, Dampak Alkohol dalam Tubuh?

Secara kimiawi, alkohol adalah zat hasil fermentasi dan memiliki jalur metabolisme tersendiri dalam tubuh.

Alkohol menghasilkan kalori sebanyak 7 kkal per gram (lebih tinggi dibanding karbohidrat; 4 kkal/gram ataupun protein; 4 kkal/gram).

Dilihat dari gugus fungsinya, alkohol memiliki banyak golongan. Golongan yang paling sederhana adalah metanol dan etanol.

Bersumber dari buku Pencegahan dan Penanggulangan Keracunan Bahan Kimia Berbahaya oleh Koes Irianto, metanol ini digunakan sebagai pelarut dalam cat, bahan anti beku, dan senyawa kimia lainnya.

Sementara itu, etanol banyak digunakan sebagai pelarut, antiseptik, campuran obat batuk, bahan minuman keras dan minuman lain yang mengandung alkohol.

2. Metabolisme alkohol dalam tubuh
Ramai RUU Minol, Apa Saja, sih, Dampak Alkohol dalam Tubuh?

Menurut sebuah laporan dalam Medical Journal of Lampung University tahun 2015, terdapat dua jalur metabolisme alkohol dalam tubuh, yaitu melalui jalur enzim alkohol dehidrogenase (ADH) dan melalui jalur microsomal ethanol oxidizing system (MEOS).

Enzim ADH mengonversi alkohol menjadi asetaldehida. Enzim ini terletak di organ hati, tetapi sejumlah ditemukan di otak dan lambung. Akumulasi asetaldehida yang berlebihan dapat menyebabkan nyeri kepala dan kemerahan di kulit.

Sementara, jalur MEOS menggunakan nicotinamide adenine dinucleotide phosphate (NADPH) sebagai kofaktor dalam metabolisme etanol dan terdiri dari sitokrom P450.

Konsumsi alkohol berlebih jangka panjang akan menginduksi aktivitas MEOS. Akibatnya, tidak hanya menimbulkan peningkatan dalam metabolisme etanol, tapi juga dalam metabolisme obat lain yang dilakukan oleh sitokrom P450 dalam sistem MEOS, serta pembentukan produk samping beracun seperti toksin, radikal bebas, dan H2O2.

3. Efek alkohol dalam tubuh
Ramai RUU Minol, Apa Saja, sih, Dampak Alkohol dalam Tubuh?

Melansir Global Status Report on Alcohol and Health tahun 2014, dari 241 juta penduduk Indonesia, prevalensi gangguan karena penggunaan alkohol adalah 0,8 persen (1.928.000 orang) dan prevalensi ketergantungan alkohol adalah 0,7 persen (1.180.900 orang) pada laki-laki maupun perempuan.

Gejala intoksikasi alkohol yang paling umum adalah “mabuk” atau “teler”, yang mana kondisi ini dapat menyebabkan cedera, kecacatan, hingga kematian.

Pada umumnya, konsumsi minuman beralkohol merugikan semua tubuh secara berangsung-angsur, seperti peradangan hati (sirosis hati), pendarahan dalam perut (mag), penyakit jantung (kardiomiopati), serta memengaruhi hormon seks dan sistem kekebalan tubuh.

Pengaruhnya terhadap otak bisa dirasakan secara akut (intoksikasi, delirium) maupun kronis (ataksia, pelupa, koordinasi motorik).

Namun, menurut sebuah penelitian dalam Journal of Molecular and Cellular Cardiology tahun 2012, konsumsi alkohol ringan (kurang dari 1 persen) diketahui memiliki efek protektif terhadap infark miokard (serangan jantung), penurunan kadar kolesterol jahat (LDL) dan fibrinogen, serta peningkatan kolesterol baik (HDL).

4. Efek alkohol terhadap penyerapan zat gizi
Ramai RUU Minol, Apa Saja, sih, Dampak Alkohol dalam Tubuh?

Menurut keterangan dalam jurnal Prosiding Seminar Nasional MIPA tahun 2012, konsumsi alkohol berlebihan dihubungkan dengan defisiensi vitamin A karena terjadi penurunan kadar retinol dan retinil ester dalam hati.

Selain itu, dilaporkan juga defisiensi vitamin C, yang ditandai dengan seriawan, perdarahan gusi, dan gangguan penyembuhan luka. Metabolisme lemak menjadi abnormal, serta pengendalian kadar glukosa darah menjadi kurang efektif. Aktivasi vitamin B juga menjadi terganggu apabila terjadi kerusakan pada hati.

5. Pengukuran konsumsi alkohol
Ramai RUU Minol, Apa Saja, sih, Dampak Alkohol dalam Tubuh?

Dalam buku At a Glance Ilmu Gizi oleh Mary E. Barasi, disebutkan bahwa di Inggris, pedoman tentang jumlah satuan unit dalam minuman beralkohol ditetapkan oleh Health Education Authority (HEA). Satu unit alkohol didefinisikan sebagai 8 gram atau 10 ml etanol.

Anjuran pemerintah Inggris, asupan alkohol alkohol tidak lebih dari 3-4 unit per hari untuk laki-laki dan 2-3 unit per hari untuk perempuan. Dalam seminggu, asupan alkohol tidak boleh melebihi 21 unit untuk laki-laki dan 14 unit untuk perempuan. Tak hanya itu, harus ada hari yang bebas alkohol.

Menurut keterangan dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), untuk mengurangi risiko bahaya terkait alkohol, Dietary Guidelines for Americans tahun 2015-2020 merekomendasikan konsumsi alkohol dalam jumlah sedang; 1 minuman per hari untuk perempuan dan 2 minuman per hari untuk laki-laki, dan hanya boleh dikonsumsi oleh orang-orang yang sudah mencapai usia legal untuk minum alkohol. Dalam panduan tersebut, orang-orang yang tidak minum alkohol tidak direkomendasikan untuk mulai meminumnya apa pun alasannya.

Mereka yang terkena GMO biasanya mengalami perubahan perilaku, seperti misalnya ingin berkelahi atau melakukan tindakan kekerasan lainnya, tidak mampu menilai realitas, terganggu fungsi sosialnya, dan terganggu pekerjaannya. Perubahan fisiologis juga terjadi, seperti cara berjalan yang tidak mantap, muka merah, atau mata juling. Perubahan psikologis yang dialami oleh konsumen misalnya mudah tersinggung, bicara mengawur, atau kehilangan konsentrasi.