Fakta Minuman Beralkohol Tidak Buat Kamu Bebas dari COVID19

Fakta Minuman Beralkohol Tidak Buat Kamu Bebas dari COVID19

Fakta Minuman Beralkohol Tidak Buat Kamu Bebas dari COVID19 – Minuman beralkohol atau kadang disingkat minol adalah minuman yang mengandung  etanol. Etanol adalah bahan psikoaktif dan konsumsinya menyebabkan penurunan kesadaran. Di berbagai negara, penjualan minuman beralkohol dibatasi ke sejumlah kalangan saja, umumnya orang-orang yang telah melewati batas usia tertentu.

Bila dikonsumsi berlebihan, minuman beralkohol dapat menimbulkan efek samping ganggguan mental organik (GMO), yaitu gangguan dalam fungsi berpikir, merasakan, dan berprilaku. Timbulnya GMO itu disebabkan reaksi langsung alkohol pada sel-sel saraf pusat. Karena sifat adiktif alkohol itu, orang yang meminumnya lama-kelamaan tanpa sadar akan menambah takaran/dosis sampai pada dosis keracunan atau mabuk.

Baru-baru ini, beredar informasi yang menyatakan bahwa minum minuman beralkohol bisa mengurangi risiko terinfeksi COVID-19. Informasi ini mencatut nama IDN Poker77 Apk salah satu rumah sakit di Amerika Serikat, yakni Saint Luke’s Hospital Kansas City dan tertuang di surat edaran tertanggal 7 Maret 2020. Tak lama, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) melabeli informasi ini sebagai hoaks. Pihak Saint Luke’s Hospital juga membantah telah menerbitkan surat edaran tersebut.

Minuman Beralkohol Tidak Melindungimu dari COVID-19, Ini Faktanya
1. Alkohol justru bisa menurunkan sistem imun tubuh
Minuman Beralkohol Tidak Melindungimu dari COVID-19, Ini FaktanyaBerdasarkan klarifikasi dari World Health Organization (WHO) Regional Office for Europe, mengatakan bahwa minuman beralkohol tidak bisa melindungi dari COVID-19. Alih-alih, justru bisa menurunkan daya tahan tubuh. Hal ini dipertegas pada studi berjudul “Alcohol and the Immune System” yang diterbitkan di jurnal Alcohol Research: Current Reviews pada tahun 2015.

Minuman beralkohol bisa merusak kemampuan tubuh untuk bertahan terhadap infeksi, menghambat pemulihan dari cedera jaringan serta berkontribusi terhadap kerusakan organ. Menurut Ellen F. Foxman, MD, PhD, ahli patologi dari Yale School of Medicine, mengatakan bahwa minuman beralkohol bisa menekan sistem kekebalan tubuh.

2. Terlalu banyak minuman beralkohol bisa meracuni kita
Minuman Beralkohol Tidak Melindungimu dari COVID-19, Ini Faktanya

Akibat hoaks minuman beralkohol bisa menyembuhkan COVID-19, 700 orang tewas di Iran. Menurut Kianoush Jahanpour, juru bicara kementerian kesehatan Iran, rinciannya ialah 525 orang meninggal di rumah sakit karena keracunan alkohol. Sementara, menurut Hossein Hassanian, penasihat kementerian Iran, 200 orang lainnya yang keracunan alkohol meninggal di luar rumah sakit, jelas laman Independent.

Menurut studi berjudul “Alcohol Poisoning” yang diterbitkan di jurnal Nursing pada tahun 2013, gejala keracunan alkohol adalah bicara menjadi cadel, kebingungan, muntah, dan tidak sadarkan diri. Ini akibat etil alkohol atau etanol yang bisa menekan sistem saraf pusat. Bukannya terhindar dari COVID-19, justru menambah masalah baru!

3. Selain itu, vodka tidak bisa digunakan sebagai hand sanitizer
Minuman Beralkohol Tidak Melindungimu dari COVID-19, Ini Faktanya

Yang menarik, di surat edaran itu disebutkan bahwa minuman beralkohol jenis vodka paling direkomendasikan untuk minum, membersihkan dan digunakan untuk sanitizer. Padahal, salah satu produsen vodka, Tito’s Handmade Vodka, mengatakan bahwa produknya tidak bisa digunakan sebagai hand sanitizer. Mengapa demikian?

Ini karena Centers for Disease Control and Prevention merekomendasikan kadar alkohol untuk hand sanitizer minimal 60 persen. Sementara, kadar alkohol pada Tito’s Handmade Vodka hanya 40 persen, sehingga tidak memenuhi ketentuan CDC, dilansir dari laman Business Insider.

Mereka yang terkena GMO biasanya mengalami perubahan perilaku, seperti misalnya ingin berkelahi atau melakukan tindakan kekerasan lainnya, tidak mampu menilai realitas, terganggu fungsi sosialnya, dan terganggu pekerjaannya. Perubahan fisiologis juga terjadi, seperti cara berjalan yang tidak mantap, muka merah, atau mata juling. Perubahan psikologis yang dialami oleh konsumen misalnya mudah tersinggung, bicara mengawur, atau kehilangan konsentrasi.